5 Comments

Tugas Negara

Perjalanan ke Eropa (12 – 25 September )

Ini kali ke dua saya mengunjungi Eropa untuk lain maksud dan tujuan. Sama seperti yang pertama, semua terasa seperti mimpi. Kepergian pertama saya adalah di bulan April tahun 2015 seperti pernah saya ceritakan disini.  Suami untuk dua kepergian itu tidak bisa ikut mendampingi karena beberapa alasan, sedih juga sebenarnya. Namun alih2 membuat saya merasa bersalah karena meninggalkannya untuk waktu yang cukup lama, dia malah berbuat yang sebaliknya. Membuat saya merasa tersanjung karena menyebut perjalanan tahun lalu dan juga kali ini sebagai suatu ‘Tugas Negara’. Tugas yang diembankan kepada saya selaku menteri rumah tangga yang menjadikan perjalanan ini seperti sebuah misi kehormatan yang memang harus saya tunaikan. Bukan untuk tujuan senang-senang semata…terharu rasanya …Terimakasih pak suami untuk izinnya dan untuk semuanya

 

Rotterdam – Maastricht

12 September, berangkatlah saya sendiri dari bandara International Soekarno Hatta menuju Schiphol, Amsterdam, Netherlands. Harus transit selama dua kali (Singapore dan Paris) sambil berlari lari mengejar pesawat berikutnya karena waktu transitnya yang cukup sempit dan terminal transit yang cukup jauh. Alhamdulillah semua berjalan lancar hingga tiba di tujuan.

Kalau tahun lalu destinasi bandaranya adalah Brussel Airport, maka kali ini berubah menjadi Schiphol, Amsterdam. Berubah karena tujuan utama kali ini adalah ke kota Rotterdam dan Maastricht , Netherlands. Rotterdam adalah kota dimana anak gadis tengah yang selama setahun belakangan ini menuntut ilmu dikota ini. Sedangkan Maastricht adalah kota dimana anak gadis bungsu akan menempuh studinya selama setahun ke depan. Kota-kota selebihnya yang akan saya kunjungi adalah bonus. Sayangkan kalau sudah jauh2 ke Eropa sementara yang dikunjungi cuma dua kota saja.

Tugas utama saya di Rotterdam ini adalah menghadiri Closing Ceremony (semacam wisuda) yang diadakan kampusnya mba sebagai perayaaan untuk menutup akhir masa studi di kampus ini . Dan ini baru diadakan pada tanggal 23 September, dua hari sebelum kepulangan.

Sementara untuk  Maastricht saya bertugas membawa sisa barang-barang ade yang belum terangkut ke kota ini. Ade berangkat dua minggu sebelum saya. Bagasi ade yang hanya 23 kg tidak memungkinkan membawa semua barang keperluan ade untuk setahun disana. Diantara barang-barang yang saya bawa yang paling penting adalah membawa obat2an nya ade…antiobiotik cadangan dan juga beberapa vitamin yang diperlukan untuk keperluan 8 bulan ke depan.

Tugas lain yang tidak kalah pentingnya adalah mempertemukan mereka bertiga dalam satu waktu, dan karena kesibukan anak-anak maka pertemuannya cuma bisa dilakukan di dua hari terakhir menjelang kepulangan….

Ini memang saat yang paling tepat untuk bertemu, Mba yang memang sudah dekat dengan waktu kepulangan masih punya sisa waktu beberapa hari lagi di negeri keju ini. Ade baru saja datang 3 minggu yang lalu. Dan teteh memang masih harus stay di Ghent untuk waktu yang relatif lama. Irisan waktu inilah yang harus dimanfaatkan dengan maksimal. Family reunite di Closing Ceremoninya IHS…Alhamdulillah, Barakallah

 

adzilla-mom-and-sisters-2

@ Closing Ceremony

 

Dari acara closing ceremony ini, kita masih punya 2 malam dan 1 hari lagi untuk bersama menghabiskan rindu. Dan sesuai usul anak-anak kita manfaatkan waktu tersebut untuk jalan-jalan ke dua kota tetangga, Delft dan Denhaag yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Rotterdam hanya setengah jam berkereta. Delft sendiri adalah tempat yang terkenal dengan toko-toko souvenir khas belandanya dengan harga yang terjangkau.

adzillas-family-8

Jalan-jalan di Delft

 

Sedangkan Denhaag, tempatnya salah satu resto yang menyediakan aneka masakan indonesia yang super enak, namanya Resto Elysha. Sekalian menjamu teteh, perempuan rantau yang pastinya sudah super kangen dengan masakan indonesia. Dan juga mengenalkan ke de Lia siapa tau di satu tahun ke depan ada masa2 kangen makan empek2, baso dll..cukup mengobati rindunya dengan datang kesini.

adzillas-family-11

Enter a caption

Ada satu lagi acara di Denhaag kali ini…tuan rumah yang sahabat dari anak sulung saya mengajak ke pantai Scheveningen untuk melihat festival layang layang. Saya yang tadinya berniat langsung pulang setelah makan akhirnya memutuskan ikut juga ke pantai.

adzillas-family-14

gembira di pantai

Acara family reunite kita akhiri dengan makan malam di Market Hall Rotterdam, tempatnya resto seafood rekomendasi dari mba Dzila

Saatnya Berpisah

Waktu kebersamaan 4 perempuan Setiobudi terasa sekejap. Mulai dari Jumat siang 23 September 2016 hingga  25 September 2016. Yang pertama meninggalkan adalah Tazy, yang mengejar kereta pagi untuk kembali ke Ghent Belgia untuk meneruskan lagi tugas riset doktoralnya, Lisana pulang ke Maastricht sorenya bersiap kuliah di hari seninnya. Dan saya berdua mba Dzila tetap di Rotterdam menunggu saat2 jam kepulangan di hari yang sama…

Akhirnya misi selesai….

See U when I see U dear Lisana dan Teh Tazy. Barakallah fiihuma…sehat-sehat selalu, terjaga ibadahnya serta lancar studinya…aamiin

Dan semoga lain kali bisa lengkap berlima reuniannya…aamiiin

 

Bandung, 29 September 2016

 

*Photo Credit : Rizqi

 

 

 

 

Leave a comment

Saat hidup tak lagi rata ( cerita si bungsu)

Sudah beberapa bulan sejak wisuda Agustus tahun 2015 lalu si bungsu menemani kami di Bandung, rumah jadi tidak terlalu sepi lagi mengingat kedua  kakaknya masih berada nun jauh di benua seberang. Dan sesuai dengan niatnya semula Ade pun  memulai prosesnya untuk melamar beasiswa S2, Ada beberapa Universitas yang ditujunya, dan semuanya berada di benua Eropa. Bismillah ya de, semoga apa yang dicita-citakannya tercapai.

Selain waktu paska wisudanya dipakai untuk mengurus ini itu terkait urusan sekolah dan beasiswa, Adepun memilih untuk ikut kegiatan yang selama kuliah tak mungkin diikutinya dikarenakan kesibukannya. Salah duanya adalah mengikuti kursus bahasa Arab di suatu lembaga yang bernama Al-Fityah, yang kebetulan  lokasi belajarnya tak jauh dari rumah. Ade juga ikut gabung dengan mamanya di kelas hafalan Qur’an setiap rabu yang diadakan di salah satu rumah di lingkungan tempat tinggal kami.

Semua terlihat berjalan lancar dan normal, aman dan damai saja, sampai di suatu waktu yang akan merubah segalanya. Dimulai dari Ade yang mulai sering tidak enak badan di akhir-akhir bulan Februari. Disaat itu teman dekatnya yang bernama Aini datang  berkunjung ke Bandung danAde saat itu kondisinya masih baik-baik saja, bahkan Dia sendiri yang menjemput temannya ini ke Stasiun Hall. Masih wara wiri juga naik angkot….Namun keesokan  harinya saat jalan-jalan di Lembang mulailah  Ade merasa badan kurang enak badan sehingga acara di Lembangpun dipercepat dan Ade menyurh sopir untuk segera pulang ke Bandung.

Kondisi Ade sempat membaik beberapa waktu, sampai akhirnya mulai menurun lagi disekitar awal Maret, dimana Ade mulai sering demam ringan yang diiringi dengan fisik yang mulai melemah. Aktifitas rutinnya pun mulai terganggu, off dulu dari beberapa kegiatan.

Alih-alih membaik, demamnya-pun semakin hari semakin mengkhawatirkan, sampai akhirnya menetap suhu tingginya untuk lebih dari 3 hari. Tak bisa dibiarkan begitu saja karena kami mulai khawatir ade terserang DB ataupun thypus yang memang salah satu gejala utamanya nya adalah panas yang tinggi , Maka pada tanggal 5 Maret 2016 kamipun bergegas  pergi memeriksakan Ade ke dokter umum di sebuah Rumah Sakit swasta di daerah Soekarno Hatta , dengan pertimbangan kalau cek darah dan cek lab lainnya diperlukan maka kami tidak perlu repot-repot  lagi karena di rumah sakit tentu saja sudah tersedia.

Akhirnya setelah kontrol dokter dan melakukan test darah, hasil cek darah  Ade menunjukkan Ade positif terkena gejala Thypus. Namun mengingat hasil test widalnya yang angkanya masih masuk katagori so-so maka dokter tidak menyuruh Ade untuk rawat inap, di rawat di rumah saja cukup katanya, asalkan makanannya dijaga dan obat-obatnya rutin diminum. Saat itu untuk berjalanpun ade sudah mulai kesulitan…berjuang untuk langkah demi langkah yang ditempuhnya.

Dan tenanglah kami sepulang dari rumah sakit. Dalam hati kami berfikir “Ah, insyaAllah seminggu juga sembuh, banyak kok yang terkena thypus di komplek rumah kami dan kembali sembuh seperti sediakala“. Namun lain harapan lain pula kenyataan .

Beberapa hari di rawat di rumah, dengan menu makanan sesuai standar menu makanan penderita thypus, kondisi Ade bukannya tambah baik malahan terus  memburuk. Panas yang tak kunjung turun, ditambah beberapa keluhan lain seperti mual, diare, pusing dan yang paling parah adalah Ade beberapa kali pingsan saat mencoba turun dari tempat tidur atau saat akan ke toilet.

Merasa kondisinya Ade yang semakin hari hari semakin melemah dan mengkhawatirkan akhirnya tanggal 11 Maret kami putuskan untuk membawa Ade ke IGD Rumah Sakit yang sudah kami sebutkan tadi, dengan harapan penyakit Ade bisa tertangani dengan baik, dalam perawatan yang lebih intensif dan tentu saja bisa sembuh lagi seperti sediakala….

Dan keputusannya memang harus rawat inap.

Hari demi hari berlalu di rumah sakit, panas badan Ade tak kunjung turun. Di rumah sakit ini Ade ditangani oleh salah satu dokter internis yang memang sudah kami kenal sebelumnya saat almarhum ibunda dirawat di rumah sakit yang sama. Dokter I ini terus memantau perkembangan penyakit Ade dari hari ke hari, dan ini yang membuat kami sedikit lebih tenang.  Sayangnya hingga hari kelima dokter belum dapat memastikan gerangan apa penyakit yang diderita Ade. Test darahpun dilakukan setiap hari untuk terus menemukan jenis penyakitnya, apakah benar thypus seperti diagnosa awal, atau ada penyakit lainnya. Karena test widal yang diulang pada akhirnya hasilnya menjadi negatif yang berarti pula Ade negatif thypus.

Bahkan hingga hari ke enam tidak ada satupun penyakit yang terdeteksi oleh berbagai test darah dan rontgen padahal Ade masih terus dalam kondisi panas yang tinggi. Sementara itu dokter menganggap belum perlu untuk dilakukan test2 lainnya.Dari hasil-hasil test lab sementara ini yang paling mengejutkan dan membuat penasaran dokter adalah hasil test LED (Laju Endap Darah) yang tinggi sekali di atas batas normal, di awal angka LED yang keluar mencapai sekitar 90 ( Normal untuk perempuan 0-15) dan angka ini berarti beberapa kali lipat dari batas normal. LED tinggi menandakan ada sesuatu yang salah dalam tubuh, terjadi infeksi di tubuh tepatnya.

Hari ke tujuhpanas mulai mereda…Dokter memang memberikan kepada Ade beberapa obat anti infeksi dan anti peradangan yang umum sifatnya, sehingga bisa  meredakan panasnya untuk sementara waktu, cukup ampuh obat2nya walau Ade sering merasakan sakit luar biasa saat obat-obat anti radang itu dimasukkan ke dalam tubuhnya.

Di hari ke delapan mulai ada secercah harapankarena suhu tubuh Ade yang mulai stabil. Maka kitapun sudah diperbolehkan pulang, karena panas sudah tidak muncul lagi selama dua hari berturut-turut, dengan catatan harus tetap waspada dan siaga penuh karena LED yang masih bertahan di angka 90 dan tidak turun sedikitpun.

Dan kesimpulan akhirnya dokter hanya mengatakatakan si bungsu terkena Viral Infection (Infeksi Virus)…kesimpulan yang sangat abu2 dan bikin hati ini tidak tenang, karena kemungkinan infeksinya kembali meradang lagi.

Bismillah pulanglah si bungsu di hari ke delapan dengan kondisi yang masih lemah walau demamnya sudah benar-benar hilang (berlanjut)

 

2 Comments

Menjalani mimpi

2

Mba Dzil sudah ke jembatan ini belum?

+ Belum mah

– Sempetin ya mba

+ oke mah

– Dan akhirnya mba Dzil kesini juga

Jadi begitulah ibunya yang justru lebih semangat dari anaknya. Bahkan ibunya yg lebih tau lebih dulu tentang jembatan ini. Padahal ke kota ini juga belum pernah. Tanya kenapa?

2012

Terlempar ke masa 3 tahun yang lalu, di timeline fb seorang teman (berlakang belakang sama ,Arsitektur ) memposting foto dirinya dengan latar belakang bangunan dekonstruktif dengan dominasi warna cat kuning yang cukup mencolok. Bangunan yang unik dan menarik. Tidak tau itu ada di negara mana dan saya juga tidak bertanya pada teman saya itu.

Sampai suatu saat googling dan akhirnya tau juga dimana bangunan tersebut berada. Cube House namanya, berada di suatu kota di Eropa. Bangunan dengan kemiringan 45 derajat karya arsitek Piet Blom, Bangunan ajaib, yang ternyata bukan bangunan yg hanya diciptakan untuk dilihat semata. Sehari-harinya difungsikan sebagai eksklufif rental house.

cube-houses-rotterdam-1280px-854px

Sedikit ‘envy’ sama teman yang satu ini. Jalan-jalannya sudah jauh sekali, sering-seringnya foto-foto dengan latar belakang gedung-gedung ikonik dunia. Lalu saya? baru mimpi saja, mimpi yang suatu hari bisa terwujud.

2014

Dan tibalah saat si tengah mba Dzila sibuk mencari-cari Universitas untuk melanjutkan studi S2 nya mengikuti jejak tetehnya yg juga studi di luar. Dan ada beberapa pilihan Universitas di beberapa negara yang sesuai dengan minatnya dan memungkinkan untuk mendapatkan beasiswanya.

Pilihan utamanya ada di salah satu kota di benua kangguru, yang terkenal dengan ‘most livable city’ nya. Pilihan berikutnya ada di Salah satu kota di Belanda. Saya ikut berdoa untuk keduanya. Dimanapun nanti diterima, yang terbaik semoga untuk mba Dzila.

2015

Mba Dzila mendapat kabar kalau permohonan beasiswanya diterima. Bukan di benua kangguru. Tapi di salah satu kota di Belanda, Kota Rotterdam. Salah satu kota yang orang sunda bilang ‘mahiwal’ a.k.a beda sendiri. Kota-kota lain di Belanda  terkenal dengan bangunan heritagenya, di Rotterdam ini malahan sebaliknya. Rotterdam adalah kota di Belanda yang paling pabalatak bangunan-bangunan super modernnya. Di kota ini jugalah tempatnya cube house itu berada. Coba lihat juga ‘market hall’ nya dibawah ini….zuuper kan.

Market hall (1)

Dan melihat kebelakang, milhat kembali tentang impian-impian yang kita simpan dalam memori kita , memberi pelajaran bahwa ternyata mimpi itu tak perlu dijalani sendiri . Melihat ada yang menjalani hidup seperti mimpi kita rasanya sama saja bahagianya dengan menjalaninya sendiri. Apalagi yang menjejaki mimpi kita adalah orang-orang yang kita sayangi. Melihat mba Dzilla bisa berada di kota impian ibunya ini sambil mengejar impiannya sendiri tentunya, cukup membuat ibunya juga berbunga-bunga bahagia. Sekarang ini mungkin waktu untuk anaknya berada disana , tapi siapa tau langkah kaki ibunya bisa sampai kesini juga 🙂

 

 

Leave a comment

Setelah 30 tahun

Jadi teringat dengan pembicaraan kami bertiga tadi pagi di mobil. Saya, suami dan si bungsu. Dan salah satu isi pembicaraan ringannya adalah betapa saya dan suami ini pasangan yg saling bertolak belakang, yang beda minat beda kesukaan, yang bahasa kerennya biasa disebut pasangan dengan opposite attraction. Dimana perbedaan minatnya jauh lebih banyak dari pada sebaliknya. Sebut saja mulai dari makanan kesukaan, film favorit , jenis buku bacaan, musik  dan masih banyak lagi.

Ambil contoh paling simple saja ketika si mas suka makan pisang goreng, saya lebih memilih bala-bala. Si mas senang nonton film yang dar-der-dor dan ciat-ciat, saya pilih yang manis-manis romantis. Dan di dalam mobil si mas soleh ini (aamiin, semoga seterusnya) sukanya dengar murotal bacaan Al-Qur’an, saya (masih) memilih mendengarkan mas Tulus berdendang.

Berlangsung bertahun-tahun tapi syukur Alhamdulillah masih aman-aman saja dengan segala perbedaan itu. Sedikit gesekan pasti ada walaupun g sampai menjadikan sebuah huru hara keluarga. Pilih saluran TV juga g sampai ambek-ambekan. Intinya masih bisa menikmati kebersamaan di tengah perbedaan.

Hanya kadang-kadang lucu saja ketika suami yang minatnya memang pada tanaman, jalan dengan istrinya yang senangnya lihat rumah-rumah yang cantik desainnya di sepanjang jalan yang dilewatinya. Suami suka tiba-tiba mengajak berhenti bila melihat pohon unik di suatu rumah, dan langsung membahasnya panjang lebar sementara saya mengangguk-angguk mengiyakan saja sambil pasang muka bosan karena memang g terlalu tertarik dan ngerti dengan tanaman. Dan itu bukan satu dua kali, kebayang kan berapa banyak pohon yang tumbuh di sepanjang jalan! hooaam jadi ngantuk *maaf ya mas.

Begitu juga bila saya ganti yang membicarakan tentang ketertarikan saya pada langgam arsitektur dari suatu rumah yang kita lewati, hehe gantian sekarang suami yang harusnya pasang muka bosan. Kenapa harusnya? karena kenyataannya tidak begitu. Sambil mendengarkan suami tetap pasang senyum khasnya. Maklum suami memang termasuk tipe penyabar dan sayang istri..*uhuk

Tapi kalau soal pilihan makanan yang beda, ada enaknya juga sih. Pisang gorengnya si mas aman terkendali tersimpan rapi di piring karena istrinya tidak ikutan makan, demikian juga dengan bala-bala saya.  Pastel saya tetap utuh karena dia lebih memilih wajik kesukaannya.  Saya penyuka makanan asin garis keras sedang suami sebaliknya. Buatnya, yang namanya makanan kecil itu ya harus manis.

Tapi di dunia itu ternyata tidak ada yang abadi yaa, termasuk segala kesukaan kita. Hidup bersama selama hampir tiga puluh tahun waktu yang cukup panjang untuk meleburkan minat-minat kita. Tiba-tiba saja ada yang berubah dari saya maupun suami. Bukan paksaan ataupun keterpaksaan. Semuanya berjalan begitu saja tanpa kita sadari. Kadang sampai terheran-heran sendiri dengan segala perubahan ini.

Coba lihat saja isi pesan WA saya baru-baru ini ke suami

“Mas, jangan lupa ya nanti sepulang dr kantor mampir beli pisang pontianaknya, 5 aja cukup”.

Lain kali saat suami membawa pulang bala dan tempe mendoan, saya malah protes

“kok g ada pisangnya” … looh!

Dan akhir-akhir ini malam hari sebelum tidur pertanyaan rutin saya ke suami adalah :

” Mas, besok pagi ke kebun dulukah?”

“Kalau iya saya mau ikut, mau lihat pohon jambunya sama mau bantu pangkas-pangkasin daun”

Dan suamipun senyum-senyum senang mendengarnya.

akhirnyaaa

 

 

 

 

Leave a comment

Anakku tetap anakku

Dan semakin hari anak-anakpun semakin beranjak dewasa. Sebagai konsekwensinya ada banyak yang aktifitas rutin yang hilang sekarang ini. Tak ada lagi kesibukan sebagaimana masa-masa dulu saat masih berkumpul bersama. Beberapa bahkan sudah dicoret dari daftar kewajiban sebagai orang tua. Mengambil rapot adalah salah satu aktifitas yang hilang sejak beberapa tahun lalu. Pengasuhan secara fisik apalagi, sudah lewat bahkan lebih lama lagi.

Waktu berlalu begitu cepat. Mereka yang dahulu begitu membutuhkan kita dalam banyak hal, berangsur menjadi pribadi yang mandiri.

Dahulu bisa kita temui setiap hari kini hanya bisa kita temui di penghujung minggu, itupun melalui layar yang besarnya hanya beberapa inchi. Bertukar kabar, ada suara ada pula gambar, hanya tak dapat disentuh.

Kadang ada rasa kehilangan itu, kangen sekali-sekali membuatkan sarapan mereka, rindu mengantar jemput mereka sepulang sekolah atau sekedar makan bersama di tempat makan favorit keluarga.

Anakku bukan anakku…begitu pernah mengutip kata-kata dari Khalil Ghibran. Dan kata-kata ini jadi alasan mereka untuk merantau ke tempat yang mereka impikan. Mereka tau ibu seperti apa ibu mereka ini. Ibu yang membebaskan anak-anaknya untuk terbang tinggi menggapai citanya, melesat ke tempat yang jauh, ke benua seberang, ke negeri orang.

Sekian waktu berlalu, perjalanan membuktikan bahwa tagline anakku bukan anakku tidak selamanya berlaku. Mereka tetap anak dari ibu yang melahirkannya. Sampai kapanpun, bahkan sampai mereka menjadi orangtua dari anak-anak mereka.

Ibu masih menjadi tempat ternyaman mereka untuk mengungkapkan isi hati dan curahan segala perasaan baik yang membuncah maupun yang mengusik  di dada. Mereka sangat paham bahwa ibu mereka bukanlah ibu super yang mengerti dan menguasai segala masalah, Ilmu mereka sebenarnya malah jauh melampaui.

Namun entah mengapa pertimbangan dan masukkan dari seorang ibu yang melahirkan mereka masih dinantikan. Jarak tidak menghalangi semua kedekatan dan ikatan unik itu. Berada jauh ribuan kilometer menjadikan  ikatan hati semakin kuat. Entah sampai kapan semua ini akan berlalu, namun yang jelas hingga saat ini detik ini semua masih sama, karena ternyata anakku tetaplah anakku.

Leave a comment

Tak perlu berhenti

0001-120164586

Menjadi 50 adalah memulai atau mengakhiri banyak hal. Sebagian yang mengakhiri karena menganggap hidup sudah cukup melelahkan, mengurus anak, pekerjaan rutin rumah tangga yang tak kunjung habis, mengantar jemput anak sekolah, mengatur keuangan rumah tangga (yang kadang pas-pasan).Dan masih banyak lagi yang akan menjadi daftar yang sangat panjang disini bila disebutkan satu-satu.

Jadi sah-sah saja jika mereka yang mulai menapaki usia 50 ke atas merasa bahwa saatnyalah tubuh sedikit diistirahatkan dan yang paling penting otak juga mulai di eman-eman (disayang-sayang) dikurangi aktifitas kerjanya.Faktor U(usia) yang akhirnya menjadi sandaran untuk semua alasannya.

Seorang teman, sambil memegang bagian samping atas kepalanya bilang, “Dulu saya belajar bahasa A itu lo. Tapi sekarang g lagi, terlalu berat “.

Teman lain bilang, sekarang kegiatannya tidur, makan dan kalau weekend momong cucu.Kegiatan belajar yang dulu diikutinya juga ditinggalkan dengan alasan yang sama dengan yang diatas.
“Saya sudah g kuat mikir lagi”,Kali ini dahi yang dipegangnya.
Kalaupun mereka berkegiatan, maka dipilih yang sifatnya pasif dan hanya mendengarkan. Tak perlu ada yang di ulik apalagi sampai jadi memeras otak. Susah sekali meyakinkan mereka, bahwa kapasitas otak kita itu luar biasa, yang membatasi hanya sugesti kita sendiri.

Tapi tentu saja tidak semuanya seperti itu. Sebagian teman malah diusia 50 ke atas, bahkan mendekati 70. memilih untuk mempelajari bahasa baru dalam hal ini bahasa Arab yang terkenal njelimet dan memusingkan, juga menatang diri mereka sendiri untuk menghapal bait-bait Hadis yang walau sebagian pendek namun sebagian lagi aduhai panjang narasinya, dan mereka ternyata mampu! Bahasa Arab sudah sukses dijalani salah satu teman bercucu 7 hingga tahun ke empat dan masih berjalan terus sampai saat ini.Demikian juga dengan hafalan hadisnya,sudah melewai 10 hapalannya. Bukan hanya otak yang ditantang, fisik mereka pun juga. Beberapa ibu-ibu sepuh malah menjadikan dua hari dalam seminggunya sebagai hari berjalan-jalan bersama. Bukan jalan jalan biasa, ini jalan yang menanjak dan cukup jauh jaraknya. Warbiyaza yaa

Memang usahanya tidak selalu mulus dan ada saatnya tertatih-tatih menjalani semuanya. Namun semangat dan juga sugesti diri bahwa otak pikiran dan raga mereka masih mampu untuk menyerap dan melakukan hal-hal yang tidak bisa dibilang ringan, mengalahkan semua rintangan yang dihadapinya. Jadi senang dan ikut semangat kalau berada di tengah-tengah ibu-ibu emas positif ini.

Adanya dua kutub ibu-ibu 50 keatas yang bertolak belakang ini berasal dari dua sudut pandang yang berbeda dalam memaknai usia emas ini. Sugesti yang berbeda menghasilkan output yang berbeda juga.
Menjadi 50 seharusnya bukan memulai untuk mengakhiri, tapi mengawali kedepannya untuk tahun-tahun terbaik kita. Kalau kita masih mampu melakukannya kenapa harus berhenti?

Leave a comment

Dan emakpun belajar lagi

“Pucuk dicinta ulam tiba”

Begitu ya, kalau ada niat terbersit di hati selalu saja ada jalan untuk mewujudkan.

Seperti pertemuan dengan emak2 KEB Bandung ini…benar2 g nyangka bisa secepat ini bisa bertemu langsung. Apalagi dengan Makmin Mak Annisa Stevani dan mba Istiani Sutanti dan juga mak Efi Fitriyyah..rasanya seperti mimpi deh.heheh

sebagai newby di KEB ini, merasa cupu banget dibanding emak2 lain. Walaupun sudah ngeblog selama hampir satu dasawarsa, tapi karena g pernah bergabung dengan yang namanya komunitas blog jadi tetap aja ketinggalan kereta dalam banyak hal. Makanya begitu ada info KEB ngadain workshop infografis yang alhamdulillahnya diadakan di Bandung, langsung g menyia nyiakan kesempatan ini.

Langkah pertama minta izin suami dulu, ini yang paling penting secara acaranya diadakan di hari minggu, harinya keluarga. Alhamdulillah, lobi lobi sedikit akhirnya keluar juga surat izin belajarnya. Maju ke langkah berikutnya yaitu kirim inbox ke mak Efi Fitriyyah untuk daftar sebagai perserta, dan bersyukur masih ada seat kosong padahal pesertanya dibatasi cuma 20 orang. Dan finally setelah dapat konfirmasi dari mak Efi langsung tansfer untuk biayanya. Beres dan legaa…

Menunggu hari H nya tiba rasanya g sabar seh. Dan saat tiba harinya…yang ada malah deg-deg an. Ini perdana ketemu dengan sesama anggota KEB. menerka nerka respon mak-mak lain terhadap saya yang notabene pendatang baru di dunia per KEB an. Maklum lingkar pertemanannya biasanya itu-itu aja, yang sudah saling kenal sejak lama, tetangga, teman kursus bahasa Arab juga teman2 pengajian yang usianya rata sebaya dengan saya, usia golden age semua bahkan banyak juga yang diatas saya. jadi menebak-nebak juga range usia para emak KEB ini.

Masuk Grapari digilife, tempat pertemuan berlangsung, ternyata emak-emak lain sudah banyak yang datang..heu2. Rajin-rajin yaa emak-emak ini. Daaan jeng-jeng, g terlalu meleset dari dugaan saya…namanya memang emak-emak blogger tapi kok pada muda-muda semua yaa, ..hehe berasa jadi senior banget disini. Maks Tutornya dan makminnyapun demikian , gareulis dan muda pisan. Jadi serasa belajar sama anak sendiri.

IMG_6405

Baru saja cari tempat dan duduk manis, sudah didatangi oleh makmin Istiana Sutanti untuk dibantu transfer file yang diperlukan untuk belajar infografis nanti. Program utamanya yaitu photoshop CS3 sudah dinstall dulu di rumah sebagaimana pesan makmin Efi di emailnya. Setelah mak Isti yakin semua peserta siap dengan segala program dan file yang diperlukan maka kelaspun segera dimulai dengan tutornya Mak Annisa Steviani yang menawan dengan hijab merahnya.

IMG_6408

Pengenalan tampilan layar CS3

Hal pertama yang Mak Annisa ajarkan di depan kelas adalah memperkenalkan apa itu photoshop CS3, pengenalan layarnya, juga jenis2 tools nya, baru setelah itu kita disuruh praktek-in sedikit demi sedikit sesuai dengan contoh yang diberikan. Makmin Isti sendiri membantu dan mendampingi langsung di meja2 peserta kalau-kalau ada peserta yang menemui kesulitan dalam mempraktekkan-nya. Kolaborasi yang dua makmin yang kereen.

IMG_6406

Makmin  Annisa Steviani

Suasana belajarnya seruu..hiruk pikuk deh. Tapi ada juga yang tenang2 aja dan tau tau sudah jadi aja gambar infografisnya. Nah kalau saya termasuk yang riwueh suriweuh. Maklum, sudah lama banget g bercengkerama dengan photoshop ini. Pernah belajar tapi lebih banyak lupanya. Maklum sudah 3 atau 4 tahun yang lalu belajarnya dan jarang dipraktekkin. ilmunya yang memang sedikit sudah bubar jalan semua jadinya..heuheu. Ya sudahlah pasrah saja, sempat kagok memilih toolsnya dan sedikit heboh dengan pengaturan layer2nya. Sempat senewen juga karena infografis yg sudah dibikin setengah jadi dengan suyah payah pula menghilang begitu saja sebelum sempat di save dan harus bikin baru dan baru lagi.

Pantang menyerah, coba dan coba lagi. Saat orang lain sudah 90% saya malah mulai dari awal lagi. Alhamdulillah pas waktunya selesai jadi juga infografis sesuai yang dicontohkan. Walaupun hasilnya akhirnya secara kualitas g sebagus hasil teman-teman lainnya. Tapi buat saya sendiri ini termasuk lumayan untuk saya yang sudah masuk kepala lima ini. Hitung hitung latihan otak supaya g cepat pikun…kata artikel di kompas minggu, salah satu cara mencegah kepikunan adalah banyak mengasah otak kita dengan permainan kreatif seperti ini.

Dan hasilnya seperti ini

infografislumayankan untuk pemula ? *menghibur diri

Jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Usai sudah belajar infografisnya. Lebih cepat dari yang dijadwalkan. Saatnya silaturahim dan tak lupa foto2. Kebetulan di halaman belakang Grapari, ada spot bagus untuk foto-foto…senangnya bisa foto bareng emak KEB.

Tapi sayang, saat foto bersama yang ada saya lagi merem semua…padahal yang ada sayanya cuma ada 2 dan dua2nya merem…huhu sedih deh.

Nah , kalau foto dibawah ini g ada saya…bagus yaa dan g ada yang merem.

1Pengganti kekecewaan g ada saya di foto bersama di atas, untung ada foto yang di bawah ini. Foto bersama dua makmin yang baik hati, Mak Annisa dan Mak isti..tanpa malu-malu saya yang minta foto dengan mereka, untuk kenang2an dan pamer ke anak2, hehe.Terimakasih ya sudah boleh foto..terimakasih juga sama yang motoin. Background muralnya bagus kan?

IMG_6418

Diantara 2 emak Tutor

Selesai sesi foto-foto, selesai juga acara seru ini diakhiri dengan makan bersama. Saya pamit pulang duluan karena sudah janji dengan dua gadis saya.  Minggu pagi yang sangat menyenangkan,tambah ilmu tambah teman juga. G sabar nunggu ada pertemuan-pertemuan berikutnya. Jangan lupa colek-colek saya ya maks kalau ada acara lagi