5 Comments

Tugas Negara

Perjalanan ke Eropa (12 – 25 September )

Ini kali ke dua saya mengunjungi Eropa untuk lain maksud dan tujuan. Sama seperti yang pertama, semua terasa seperti mimpi. Kepergian pertama saya adalah di bulan April tahun 2015 seperti pernah saya ceritakan disini.  Suami untuk dua kepergian itu tidak bisa ikut mendampingi karena beberapa alasan, sedih juga sebenarnya. Namun alih2 membuat saya merasa bersalah karena meninggalkannya untuk waktu yang cukup lama, dia malah berbuat yang sebaliknya. Membuat saya merasa tersanjung karena menyebut perjalanan tahun lalu dan juga kali ini sebagai suatu ‘Tugas Negara’. Tugas yang diembankan kepada saya selaku menteri rumah tangga yang menjadikan perjalanan ini seperti sebuah misi kehormatan yang memang harus saya tunaikan. Bukan untuk tujuan senang-senang semata…terharu rasanya …Terimakasih pak suami untuk izinnya dan untuk semuanya

 

Rotterdam – Maastricht

12 September, berangkatlah saya sendiri dari bandara International Soekarno Hatta menuju Schiphol, Amsterdam, Netherlands. Harus transit selama dua kali (Singapore dan Paris) sambil berlari lari mengejar pesawat berikutnya karena waktu transitnya yang cukup sempit dan terminal transit yang cukup jauh. Alhamdulillah semua berjalan lancar hingga tiba di tujuan.

Kalau tahun lalu destinasi bandaranya adalah Brussel Airport, maka kali ini berubah menjadi Schiphol, Amsterdam. Berubah karena tujuan utama kali ini adalah ke kota Rotterdam dan Maastricht , Netherlands. Rotterdam adalah kota dimana anak gadis tengah yang selama setahun belakangan ini menuntut ilmu dikota ini. Sedangkan Maastricht adalah kota dimana anak gadis bungsu akan menempuh studinya selama setahun ke depan. Kota-kota selebihnya yang akan saya kunjungi adalah bonus. Sayangkan kalau sudah jauh2 ke Eropa sementara yang dikunjungi cuma dua kota saja.

Tugas utama saya di Rotterdam ini adalah menghadiri Closing Ceremony (semacam wisuda) yang diadakan kampusnya mba sebagai perayaaan untuk menutup akhir masa studi di kampus ini . Dan ini baru diadakan pada tanggal 23 September, dua hari sebelum kepulangan.

Sementara untuk  Maastricht saya bertugas membawa sisa barang-barang ade yang belum terangkut ke kota ini. Ade berangkat dua minggu sebelum saya. Bagasi ade yang hanya 23 kg tidak memungkinkan membawa semua barang keperluan ade untuk setahun disana. Diantara barang-barang yang saya bawa yang paling penting adalah membawa obat2an nya ade…antiobiotik cadangan dan juga beberapa vitamin yang diperlukan untuk keperluan 8 bulan ke depan.

Tugas lain yang tidak kalah pentingnya adalah mempertemukan mereka bertiga dalam satu waktu, dan karena kesibukan anak-anak maka pertemuannya cuma bisa dilakukan di dua hari terakhir menjelang kepulangan….

Ini memang saat yang paling tepat untuk bertemu, Mba yang memang sudah dekat dengan waktu kepulangan masih punya sisa waktu beberapa hari lagi di negeri keju ini. Ade baru saja datang 3 minggu yang lalu. Dan teteh memang masih harus stay di Ghent untuk waktu yang relatif lama. Irisan waktu inilah yang harus dimanfaatkan dengan maksimal. Family reunite di Closing Ceremoninya IHS…Alhamdulillah, Barakallah

 

adzilla-mom-and-sisters-2

@ Closing Ceremony

 

Dari acara closing ceremony ini, kita masih punya 2 malam dan 1 hari lagi untuk bersama menghabiskan rindu. Dan sesuai usul anak-anak kita manfaatkan waktu tersebut untuk jalan-jalan ke dua kota tetangga, Delft dan Denhaag yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Rotterdam hanya setengah jam berkereta. Delft sendiri adalah tempat yang terkenal dengan toko-toko souvenir khas belandanya dengan harga yang terjangkau.

adzillas-family-8

Jalan-jalan di Delft

 

Sedangkan Denhaag, tempatnya salah satu resto yang menyediakan aneka masakan indonesia yang super enak, namanya Resto Elysha. Sekalian menjamu teteh, perempuan rantau yang pastinya sudah super kangen dengan masakan indonesia. Dan juga mengenalkan ke de Lia siapa tau di satu tahun ke depan ada masa2 kangen makan empek2, baso dll..cukup mengobati rindunya dengan datang kesini.

adzillas-family-11

Enter a caption

Ada satu lagi acara di Denhaag kali ini…tuan rumah yang sahabat dari anak sulung saya mengajak ke pantai Scheveningen untuk melihat festival layang layang. Saya yang tadinya berniat langsung pulang setelah makan akhirnya memutuskan ikut juga ke pantai.

adzillas-family-14

gembira di pantai

Acara family reunite kita akhiri dengan makan malam di Market Hall Rotterdam, tempatnya resto seafood rekomendasi dari mba Dzila

Saatnya Berpisah

Waktu kebersamaan 4 perempuan Setiobudi terasa sekejap. Mulai dari Jumat siang 23 September 2016 hingga  25 September 2016. Yang pertama meninggalkan adalah Tazy, yang mengejar kereta pagi untuk kembali ke Ghent Belgia untuk meneruskan lagi tugas riset doktoralnya, Lisana pulang ke Maastricht sorenya bersiap kuliah di hari seninnya. Dan saya berdua mba Dzila tetap di Rotterdam menunggu saat2 jam kepulangan di hari yang sama…

Akhirnya misi selesai….

See U when I see U dear Lisana dan Teh Tazy. Barakallah fiihuma…sehat-sehat selalu, terjaga ibadahnya serta lancar studinya…aamiin

Dan semoga lain kali bisa lengkap berlima reuniannya…aamiiin

 

Bandung, 29 September 2016

 

*Photo Credit : Rizqi

 

 

 

 

Leave a comment

Saat hidup tak lagi rata ( cerita si bungsu)

Sudah beberapa bulan sejak wisuda Agustus tahun 2015 lalu si bungsu menemani kami di Bandung, rumah jadi tidak terlalu sepi lagi mengingat kedua  kakaknya masih berada nun jauh di benua seberang. Dan sesuai dengan niatnya semula Ade pun  memulai prosesnya untuk melamar beasiswa S2, Ada beberapa Universitas yang ditujunya, dan semuanya berada di benua Eropa. Bismillah ya de, semoga apa yang dicita-citakannya tercapai.

Selain waktu paska wisudanya dipakai untuk mengurus ini itu terkait urusan sekolah dan beasiswa, Adepun memilih untuk ikut kegiatan yang selama kuliah tak mungkin diikutinya dikarenakan kesibukannya. Salah duanya adalah mengikuti kursus bahasa Arab di suatu lembaga yang bernama Al-Fityah, yang kebetulan  lokasi belajarnya tak jauh dari rumah. Ade juga ikut gabung dengan mamanya di kelas hafalan Qur’an setiap rabu yang diadakan di salah satu rumah di lingkungan tempat tinggal kami.

Semua terlihat berjalan lancar dan normal, aman dan damai saja, sampai di suatu waktu yang akan merubah segalanya. Dimulai dari Ade yang mulai sering tidak enak badan di akhir-akhir bulan Februari. Disaat itu teman dekatnya yang bernama Aini datang  berkunjung ke Bandung danAde saat itu kondisinya masih baik-baik saja, bahkan Dia sendiri yang menjemput temannya ini ke Stasiun Hall. Masih wara wiri juga naik angkot….Namun keesokan  harinya saat jalan-jalan di Lembang mulailah  Ade merasa badan kurang enak badan sehingga acara di Lembangpun dipercepat dan Ade menyurh sopir untuk segera pulang ke Bandung.

Kondisi Ade sempat membaik beberapa waktu, sampai akhirnya mulai menurun lagi disekitar awal Maret, dimana Ade mulai sering demam ringan yang diiringi dengan fisik yang mulai melemah. Aktifitas rutinnya pun mulai terganggu, off dulu dari beberapa kegiatan.

Alih-alih membaik, demamnya-pun semakin hari semakin mengkhawatirkan, sampai akhirnya menetap suhu tingginya untuk lebih dari 3 hari. Tak bisa dibiarkan begitu saja karena kami mulai khawatir ade terserang DB ataupun thypus yang memang salah satu gejala utamanya nya adalah panas yang tinggi , Maka pada tanggal 5 Maret 2016 kamipun bergegas  pergi memeriksakan Ade ke dokter umum di sebuah Rumah Sakit swasta di daerah Soekarno Hatta , dengan pertimbangan kalau cek darah dan cek lab lainnya diperlukan maka kami tidak perlu repot-repot  lagi karena di rumah sakit tentu saja sudah tersedia.

Akhirnya setelah kontrol dokter dan melakukan test darah, hasil cek darah  Ade menunjukkan Ade positif terkena gejala Thypus. Namun mengingat hasil test widalnya yang angkanya masih masuk katagori so-so maka dokter tidak menyuruh Ade untuk rawat inap, di rawat di rumah saja cukup katanya, asalkan makanannya dijaga dan obat-obatnya rutin diminum. Saat itu untuk berjalanpun ade sudah mulai kesulitan…berjuang untuk langkah demi langkah yang ditempuhnya.

Dan tenanglah kami sepulang dari rumah sakit. Dalam hati kami berfikir “Ah, insyaAllah seminggu juga sembuh, banyak kok yang terkena thypus di komplek rumah kami dan kembali sembuh seperti sediakala“. Namun lain harapan lain pula kenyataan .

Beberapa hari di rawat di rumah, dengan menu makanan sesuai standar menu makanan penderita thypus, kondisi Ade bukannya tambah baik malahan terus  memburuk. Panas yang tak kunjung turun, ditambah beberapa keluhan lain seperti mual, diare, pusing dan yang paling parah adalah Ade beberapa kali pingsan saat mencoba turun dari tempat tidur atau saat akan ke toilet.

Merasa kondisinya Ade yang semakin hari hari semakin melemah dan mengkhawatirkan akhirnya tanggal 11 Maret kami putuskan untuk membawa Ade ke IGD Rumah Sakit yang sudah kami sebutkan tadi, dengan harapan penyakit Ade bisa tertangani dengan baik, dalam perawatan yang lebih intensif dan tentu saja bisa sembuh lagi seperti sediakala….

Dan keputusannya memang harus rawat inap.

Hari demi hari berlalu di rumah sakit, panas badan Ade tak kunjung turun. Di rumah sakit ini Ade ditangani oleh salah satu dokter internis yang memang sudah kami kenal sebelumnya saat almarhum ibunda dirawat di rumah sakit yang sama. Dokter I ini terus memantau perkembangan penyakit Ade dari hari ke hari, dan ini yang membuat kami sedikit lebih tenang.  Sayangnya hingga hari kelima dokter belum dapat memastikan gerangan apa penyakit yang diderita Ade. Test darahpun dilakukan setiap hari untuk terus menemukan jenis penyakitnya, apakah benar thypus seperti diagnosa awal, atau ada penyakit lainnya. Karena test widal yang diulang pada akhirnya hasilnya menjadi negatif yang berarti pula Ade negatif thypus.

Bahkan hingga hari ke enam tidak ada satupun penyakit yang terdeteksi oleh berbagai test darah dan rontgen padahal Ade masih terus dalam kondisi panas yang tinggi. Sementara itu dokter menganggap belum perlu untuk dilakukan test2 lainnya.Dari hasil-hasil test lab sementara ini yang paling mengejutkan dan membuat penasaran dokter adalah hasil test LED (Laju Endap Darah) yang tinggi sekali di atas batas normal, di awal angka LED yang keluar mencapai sekitar 90 ( Normal untuk perempuan 0-15) dan angka ini berarti beberapa kali lipat dari batas normal. LED tinggi menandakan ada sesuatu yang salah dalam tubuh, terjadi infeksi di tubuh tepatnya.

Hari ke tujuhpanas mulai mereda…Dokter memang memberikan kepada Ade beberapa obat anti infeksi dan anti peradangan yang umum sifatnya, sehingga bisa  meredakan panasnya untuk sementara waktu, cukup ampuh obat2nya walau Ade sering merasakan sakit luar biasa saat obat-obat anti radang itu dimasukkan ke dalam tubuhnya.

Di hari ke delapan mulai ada secercah harapankarena suhu tubuh Ade yang mulai stabil. Maka kitapun sudah diperbolehkan pulang, karena panas sudah tidak muncul lagi selama dua hari berturut-turut, dengan catatan harus tetap waspada dan siaga penuh karena LED yang masih bertahan di angka 90 dan tidak turun sedikitpun.

Dan kesimpulan akhirnya dokter hanya mengatakatakan si bungsu terkena Viral Infection (Infeksi Virus)…kesimpulan yang sangat abu2 dan bikin hati ini tidak tenang, karena kemungkinan infeksinya kembali meradang lagi.

Bismillah pulanglah si bungsu di hari ke delapan dengan kondisi yang masih lemah walau demamnya sudah benar-benar hilang (berlanjut)

 

2 Comments

Menjalani mimpi

2

Mba Dzil sudah ke jembatan ini belum?

+ Belum mah

– Sempetin ya mba

+ oke mah

– Dan akhirnya mba Dzil kesini juga

Jadi begitulah ibunya yang justru lebih semangat dari anaknya. Bahkan ibunya yg lebih tau lebih dulu tentang jembatan ini. Padahal ke kota ini juga belum pernah. Tanya kenapa?

2012

Terlempar ke masa 3 tahun yang lalu, di timeline fb seorang teman (berlakang belakang sama ,Arsitektur ) memposting foto dirinya dengan latar belakang bangunan dekonstruktif dengan dominasi warna cat kuning yang cukup mencolok. Bangunan yang unik dan menarik. Tidak tau itu ada di negara mana dan saya juga tidak bertanya pada teman saya itu.

Sampai suatu saat googling dan akhirnya tau juga dimana bangunan tersebut berada. Cube House namanya, berada di suatu kota di Eropa. Bangunan dengan kemiringan 45 derajat karya arsitek Piet Blom, Bangunan ajaib, yang ternyata bukan bangunan yg hanya diciptakan untuk dilihat semata. Sehari-harinya difungsikan sebagai eksklufif rental house.

cube-houses-rotterdam-1280px-854px

Sedikit ‘envy’ sama teman yang satu ini. Jalan-jalannya sudah jauh sekali, sering-seringnya foto-foto dengan latar belakang gedung-gedung ikonik dunia. Lalu saya? baru mimpi saja, mimpi yang suatu hari bisa terwujud.

2014

Dan tibalah saat si tengah mba Dzila sibuk mencari-cari Universitas untuk melanjutkan studi S2 nya mengikuti jejak tetehnya yg juga studi di luar. Dan ada beberapa pilihan Universitas di beberapa negara yang sesuai dengan minatnya dan memungkinkan untuk mendapatkan beasiswanya.

Pilihan utamanya ada di salah satu kota di benua kangguru, yang terkenal dengan ‘most livable city’ nya. Pilihan berikutnya ada di Salah satu kota di Belanda. Saya ikut berdoa untuk keduanya. Dimanapun nanti diterima, yang terbaik semoga untuk mba Dzila.

2015

Mba Dzila mendapat kabar kalau permohonan beasiswanya diterima. Bukan di benua kangguru. Tapi di salah satu kota di Belanda, Kota Rotterdam. Salah satu kota yang orang sunda bilang ‘mahiwal’ a.k.a beda sendiri. Kota-kota lain di Belanda  terkenal dengan bangunan heritagenya, di Rotterdam ini malahan sebaliknya. Rotterdam adalah kota di Belanda yang paling pabalatak bangunan-bangunan super modernnya. Di kota ini jugalah tempatnya cube house itu berada. Coba lihat juga ‘market hall’ nya dibawah ini….zuuper kan.

Market hall (1)

Dan melihat kebelakang, milhat kembali tentang impian-impian yang kita simpan dalam memori kita , memberi pelajaran bahwa ternyata mimpi itu tak perlu dijalani sendiri . Melihat ada yang menjalani hidup seperti mimpi kita rasanya sama saja bahagianya dengan menjalaninya sendiri. Apalagi yang menjejaki mimpi kita adalah orang-orang yang kita sayangi. Melihat mba Dzilla bisa berada di kota impian ibunya ini sambil mengejar impiannya sendiri tentunya, cukup membuat ibunya juga berbunga-bunga bahagia. Sekarang ini mungkin waktu untuk anaknya berada disana , tapi siapa tau langkah kaki ibunya bisa sampai kesini juga 🙂

 

 

Leave a comment

Setelah 30 tahun

Jadi teringat dengan pembicaraan kami bertiga tadi pagi di mobil. Saya, suami dan si bungsu. Dan salah satu isi pembicaraan ringannya adalah betapa saya dan suami ini pasangan yg saling bertolak belakang, yang beda minat beda kesukaan, yang bahasa kerennya biasa disebut pasangan dengan opposite attraction. Dimana perbedaan minatnya jauh lebih banyak dari pada sebaliknya. Sebut saja mulai dari makanan kesukaan, film favorit , jenis buku bacaan, musik  dan masih banyak lagi.

Ambil contoh paling simple saja ketika si mas suka makan pisang goreng, saya lebih memilih bala-bala. Si mas senang nonton film yang dar-der-dor dan ciat-ciat, saya pilih yang manis-manis romantis. Dan di dalam mobil si mas soleh ini (aamiin, semoga seterusnya) sukanya dengar murotal bacaan Al-Qur’an, saya (masih) memilih mendengarkan mas Tulus berdendang.

Berlangsung bertahun-tahun tapi syukur Alhamdulillah masih aman-aman saja dengan segala perbedaan itu. Sedikit gesekan pasti ada walaupun g sampai menjadikan sebuah huru hara keluarga. Pilih saluran TV juga g sampai ambek-ambekan. Intinya masih bisa menikmati kebersamaan di tengah perbedaan.

Hanya kadang-kadang lucu saja ketika suami yang minatnya memang pada tanaman, jalan dengan istrinya yang senangnya lihat rumah-rumah yang cantik desainnya di sepanjang jalan yang dilewatinya. Suami suka tiba-tiba mengajak berhenti bila melihat pohon unik di suatu rumah, dan langsung membahasnya panjang lebar sementara saya mengangguk-angguk mengiyakan saja sambil pasang muka bosan karena memang g terlalu tertarik dan ngerti dengan tanaman. Dan itu bukan satu dua kali, kebayang kan berapa banyak pohon yang tumbuh di sepanjang jalan! hooaam jadi ngantuk *maaf ya mas.

Begitu juga bila saya ganti yang membicarakan tentang ketertarikan saya pada langgam arsitektur dari suatu rumah yang kita lewati, hehe gantian sekarang suami yang harusnya pasang muka bosan. Kenapa harusnya? karena kenyataannya tidak begitu. Sambil mendengarkan suami tetap pasang senyum khasnya. Maklum suami memang termasuk tipe penyabar dan sayang istri..*uhuk

Tapi kalau soal pilihan makanan yang beda, ada enaknya juga sih. Pisang gorengnya si mas aman terkendali tersimpan rapi di piring karena istrinya tidak ikutan makan, demikian juga dengan bala-bala saya.  Pastel saya tetap utuh karena dia lebih memilih wajik kesukaannya.  Saya penyuka makanan asin garis keras sedang suami sebaliknya. Buatnya, yang namanya makanan kecil itu ya harus manis.

Tapi di dunia itu ternyata tidak ada yang abadi yaa, termasuk segala kesukaan kita. Hidup bersama selama hampir tiga puluh tahun waktu yang cukup panjang untuk meleburkan minat-minat kita. Tiba-tiba saja ada yang berubah dari saya maupun suami. Bukan paksaan ataupun keterpaksaan. Semuanya berjalan begitu saja tanpa kita sadari. Kadang sampai terheran-heran sendiri dengan segala perubahan ini.

Coba lihat saja isi pesan WA saya baru-baru ini ke suami

“Mas, jangan lupa ya nanti sepulang dr kantor mampir beli pisang pontianaknya, 5 aja cukup”.

Lain kali saat suami membawa pulang bala dan tempe mendoan, saya malah protes

“kok g ada pisangnya” … looh!

Dan akhir-akhir ini malam hari sebelum tidur pertanyaan rutin saya ke suami adalah :

” Mas, besok pagi ke kebun dulukah?”

“Kalau iya saya mau ikut, mau lihat pohon jambunya sama mau bantu pangkas-pangkasin daun”

Dan suamipun senyum-senyum senang mendengarnya.

akhirnyaaa

 

 

 

 

Leave a comment

Anakku tetap anakku

Dan semakin hari anak-anakpun semakin beranjak dewasa. Sebagai konsekwensinya ada banyak yang aktifitas rutin yang hilang sekarang ini. Tak ada lagi kesibukan sebagaimana masa-masa dulu saat masih berkumpul bersama. Beberapa bahkan sudah dicoret dari daftar kewajiban sebagai orang tua. Mengambil rapot adalah salah satu aktifitas yang hilang sejak beberapa tahun lalu. Pengasuhan secara fisik apalagi, sudah lewat bahkan lebih lama lagi.

Waktu berlalu begitu cepat. Mereka yang dahulu begitu membutuhkan kita dalam banyak hal, berangsur menjadi pribadi yang mandiri.

Dahulu bisa kita temui setiap hari kini hanya bisa kita temui di penghujung minggu, itupun melalui layar yang besarnya hanya beberapa inchi. Bertukar kabar, ada suara ada pula gambar, hanya tak dapat disentuh.

Kadang ada rasa kehilangan itu, kangen sekali-sekali membuatkan sarapan mereka, rindu mengantar jemput mereka sepulang sekolah atau sekedar makan bersama di tempat makan favorit keluarga.

Anakku bukan anakku…begitu pernah mengutip kata-kata dari Khalil Ghibran. Dan kata-kata ini jadi alasan mereka untuk merantau ke tempat yang mereka impikan. Mereka tau ibu seperti apa ibu mereka ini. Ibu yang membebaskan anak-anaknya untuk terbang tinggi menggapai citanya, melesat ke tempat yang jauh, ke benua seberang, ke negeri orang.

Sekian waktu berlalu, perjalanan membuktikan bahwa tagline anakku bukan anakku tidak selamanya berlaku. Mereka tetap anak dari ibu yang melahirkannya. Sampai kapanpun, bahkan sampai mereka menjadi orangtua dari anak-anak mereka.

Ibu masih menjadi tempat ternyaman mereka untuk mengungkapkan isi hati dan curahan segala perasaan baik yang membuncah maupun yang mengusik  di dada. Mereka sangat paham bahwa ibu mereka bukanlah ibu super yang mengerti dan menguasai segala masalah, Ilmu mereka sebenarnya malah jauh melampaui.

Namun entah mengapa pertimbangan dan masukkan dari seorang ibu yang melahirkan mereka masih dinantikan. Jarak tidak menghalangi semua kedekatan dan ikatan unik itu. Berada jauh ribuan kilometer menjadikan  ikatan hati semakin kuat. Entah sampai kapan semua ini akan berlalu, namun yang jelas hingga saat ini detik ini semua masih sama, karena ternyata anakku tetaplah anakku.

Leave a comment

Tak perlu berhenti

0001-120164586

Menjadi 50 adalah memulai atau mengakhiri banyak hal. Sebagian yang mengakhiri karena menganggap hidup sudah cukup melelahkan, mengurus anak, pekerjaan rutin rumah tangga yang tak kunjung habis, mengantar jemput anak sekolah, mengatur keuangan rumah tangga (yang kadang pas-pasan).Dan masih banyak lagi yang akan menjadi daftar yang sangat panjang disini bila disebutkan satu-satu.

Jadi sah-sah saja jika mereka yang mulai menapaki usia 50 ke atas merasa bahwa saatnyalah tubuh sedikit diistirahatkan dan yang paling penting otak juga mulai di eman-eman (disayang-sayang) dikurangi aktifitas kerjanya.Faktor U(usia) yang akhirnya menjadi sandaran untuk semua alasannya.

Seorang teman, sambil memegang bagian samping atas kepalanya bilang, “Dulu saya belajar bahasa A itu lo. Tapi sekarang g lagi, terlalu berat “.

Teman lain bilang, sekarang kegiatannya tidur, makan dan kalau weekend momong cucu.Kegiatan belajar yang dulu diikutinya juga ditinggalkan dengan alasan yang sama dengan yang diatas.
“Saya sudah g kuat mikir lagi”,Kali ini dahi yang dipegangnya.
Kalaupun mereka berkegiatan, maka dipilih yang sifatnya pasif dan hanya mendengarkan. Tak perlu ada yang di ulik apalagi sampai jadi memeras otak. Susah sekali meyakinkan mereka, bahwa kapasitas otak kita itu luar biasa, yang membatasi hanya sugesti kita sendiri.

Tapi tentu saja tidak semuanya seperti itu. Sebagian teman malah diusia 50 ke atas, bahkan mendekati 70. memilih untuk mempelajari bahasa baru dalam hal ini bahasa Arab yang terkenal njelimet dan memusingkan, juga menatang diri mereka sendiri untuk menghapal bait-bait Hadis yang walau sebagian pendek namun sebagian lagi aduhai panjang narasinya, dan mereka ternyata mampu! Bahasa Arab sudah sukses dijalani salah satu teman bercucu 7 hingga tahun ke empat dan masih berjalan terus sampai saat ini.Demikian juga dengan hafalan hadisnya,sudah melewai 10 hapalannya. Bukan hanya otak yang ditantang, fisik mereka pun juga. Beberapa ibu-ibu sepuh malah menjadikan dua hari dalam seminggunya sebagai hari berjalan-jalan bersama. Bukan jalan jalan biasa, ini jalan yang menanjak dan cukup jauh jaraknya. Warbiyaza yaa

Memang usahanya tidak selalu mulus dan ada saatnya tertatih-tatih menjalani semuanya. Namun semangat dan juga sugesti diri bahwa otak pikiran dan raga mereka masih mampu untuk menyerap dan melakukan hal-hal yang tidak bisa dibilang ringan, mengalahkan semua rintangan yang dihadapinya. Jadi senang dan ikut semangat kalau berada di tengah-tengah ibu-ibu emas positif ini.

Adanya dua kutub ibu-ibu 50 keatas yang bertolak belakang ini berasal dari dua sudut pandang yang berbeda dalam memaknai usia emas ini. Sugesti yang berbeda menghasilkan output yang berbeda juga.
Menjadi 50 seharusnya bukan memulai untuk mengakhiri, tapi mengawali kedepannya untuk tahun-tahun terbaik kita. Kalau kita masih mampu melakukannya kenapa harus berhenti?

Leave a comment

Dan emakpun belajar lagi

“Pucuk dicinta ulam tiba”

Begitu ya, kalau ada niat terbersit di hati selalu saja ada jalan untuk mewujudkan.

Seperti pertemuan dengan emak2 KEB Bandung ini…benar2 g nyangka bisa secepat ini bisa bertemu langsung. Apalagi dengan Makmin Mak Annisa Stevani dan mba Istiani Sutanti dan juga mak Efi Fitriyyah..rasanya seperti mimpi deh.heheh

sebagai newby di KEB ini, merasa cupu banget dibanding emak2 lain. Walaupun sudah ngeblog selama hampir satu dasawarsa, tapi karena g pernah bergabung dengan yang namanya komunitas blog jadi tetap aja ketinggalan kereta dalam banyak hal. Makanya begitu ada info KEB ngadain workshop infografis yang alhamdulillahnya diadakan di Bandung, langsung g menyia nyiakan kesempatan ini.

Langkah pertama minta izin suami dulu, ini yang paling penting secara acaranya diadakan di hari minggu, harinya keluarga. Alhamdulillah, lobi lobi sedikit akhirnya keluar juga surat izin belajarnya. Maju ke langkah berikutnya yaitu kirim inbox ke mak Efi Fitriyyah untuk daftar sebagai perserta, dan bersyukur masih ada seat kosong padahal pesertanya dibatasi cuma 20 orang. Dan finally setelah dapat konfirmasi dari mak Efi langsung tansfer untuk biayanya. Beres dan legaa…

Menunggu hari H nya tiba rasanya g sabar seh. Dan saat tiba harinya…yang ada malah deg-deg an. Ini perdana ketemu dengan sesama anggota KEB. menerka nerka respon mak-mak lain terhadap saya yang notabene pendatang baru di dunia per KEB an. Maklum lingkar pertemanannya biasanya itu-itu aja, yang sudah saling kenal sejak lama, tetangga, teman kursus bahasa Arab juga teman2 pengajian yang usianya rata sebaya dengan saya, usia golden age semua bahkan banyak juga yang diatas saya. jadi menebak-nebak juga range usia para emak KEB ini.

Masuk Grapari digilife, tempat pertemuan berlangsung, ternyata emak-emak lain sudah banyak yang datang..heu2. Rajin-rajin yaa emak-emak ini. Daaan jeng-jeng, g terlalu meleset dari dugaan saya…namanya memang emak-emak blogger tapi kok pada muda-muda semua yaa, ..hehe berasa jadi senior banget disini. Maks Tutornya dan makminnyapun demikian , gareulis dan muda pisan. Jadi serasa belajar sama anak sendiri.

IMG_6405

Baru saja cari tempat dan duduk manis, sudah didatangi oleh makmin Istiana Sutanti untuk dibantu transfer file yang diperlukan untuk belajar infografis nanti. Program utamanya yaitu photoshop CS3 sudah dinstall dulu di rumah sebagaimana pesan makmin Efi di emailnya. Setelah mak Isti yakin semua peserta siap dengan segala program dan file yang diperlukan maka kelaspun segera dimulai dengan tutornya Mak Annisa Steviani yang menawan dengan hijab merahnya.

IMG_6408

Pengenalan tampilan layar CS3

Hal pertama yang Mak Annisa ajarkan di depan kelas adalah memperkenalkan apa itu photoshop CS3, pengenalan layarnya, juga jenis2 tools nya, baru setelah itu kita disuruh praktek-in sedikit demi sedikit sesuai dengan contoh yang diberikan. Makmin Isti sendiri membantu dan mendampingi langsung di meja2 peserta kalau-kalau ada peserta yang menemui kesulitan dalam mempraktekkan-nya. Kolaborasi yang dua makmin yang kereen.

IMG_6406

Makmin  Annisa Steviani

Suasana belajarnya seruu..hiruk pikuk deh. Tapi ada juga yang tenang2 aja dan tau tau sudah jadi aja gambar infografisnya. Nah kalau saya termasuk yang riwueh suriweuh. Maklum, sudah lama banget g bercengkerama dengan photoshop ini. Pernah belajar tapi lebih banyak lupanya. Maklum sudah 3 atau 4 tahun yang lalu belajarnya dan jarang dipraktekkin. ilmunya yang memang sedikit sudah bubar jalan semua jadinya..heuheu. Ya sudahlah pasrah saja, sempat kagok memilih toolsnya dan sedikit heboh dengan pengaturan layer2nya. Sempat senewen juga karena infografis yg sudah dibikin setengah jadi dengan suyah payah pula menghilang begitu saja sebelum sempat di save dan harus bikin baru dan baru lagi.

Pantang menyerah, coba dan coba lagi. Saat orang lain sudah 90% saya malah mulai dari awal lagi. Alhamdulillah pas waktunya selesai jadi juga infografis sesuai yang dicontohkan. Walaupun hasilnya akhirnya secara kualitas g sebagus hasil teman-teman lainnya. Tapi buat saya sendiri ini termasuk lumayan untuk saya yang sudah masuk kepala lima ini. Hitung hitung latihan otak supaya g cepat pikun…kata artikel di kompas minggu, salah satu cara mencegah kepikunan adalah banyak mengasah otak kita dengan permainan kreatif seperti ini.

Dan hasilnya seperti ini

infografislumayankan untuk pemula ? *menghibur diri

Jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Usai sudah belajar infografisnya. Lebih cepat dari yang dijadwalkan. Saatnya silaturahim dan tak lupa foto2. Kebetulan di halaman belakang Grapari, ada spot bagus untuk foto-foto…senangnya bisa foto bareng emak KEB.

Tapi sayang, saat foto bersama yang ada saya lagi merem semua…padahal yang ada sayanya cuma ada 2 dan dua2nya merem…huhu sedih deh.

Nah , kalau foto dibawah ini g ada saya…bagus yaa dan g ada yang merem.

1Pengganti kekecewaan g ada saya di foto bersama di atas, untung ada foto yang di bawah ini. Foto bersama dua makmin yang baik hati, Mak Annisa dan Mak isti..tanpa malu-malu saya yang minta foto dengan mereka, untuk kenang2an dan pamer ke anak2, hehe.Terimakasih ya sudah boleh foto..terimakasih juga sama yang motoin. Background muralnya bagus kan?

IMG_6418

Diantara 2 emak Tutor

Selesai sesi foto-foto, selesai juga acara seru ini diakhiri dengan makan bersama. Saya pamit pulang duluan karena sudah janji dengan dua gadis saya.  Minggu pagi yang sangat menyenangkan,tambah ilmu tambah teman juga. G sabar nunggu ada pertemuan-pertemuan berikutnya. Jangan lupa colek-colek saya ya maks kalau ada acara lagi

4 Comments

Paris, antara takut dan ingin

Entah kenapa kakak saya (travel mate) dari awal sudah phobia banget dengan kota Paris ini. Kalau orang lain sampai mimpi-mimpi ingin jalan2 ke Paris, kalau bisa berlama-lama di kota ini dan menjelajah ke setiap penjuru kotanya dan merasakan atsmosphere kota Paris yang legendaris ini. Tapi kakak beda….pengen sih pengen tapi sebentar aja g pakai lama, syarat aja kalau kita sudah menginjakkan kaki di kota ini,  g pakai nginep juga. Cukup lihat main attraction nya aja, yang lainnya? cukup dilewati saja dan dilihat dari jauh saja.

Mungkin karena banyak mendengar dari cerita teman2nya yang banyak diantaranya sudah wara wiri ke kota ini dan punya banyak pengalaman yang kurang menyenangkan disini (dicopet kebanyakannya). Jadi ya itu tadi..sudah horor duluan mendengar nama kota ini. Kalau saya sih, karena rada-rada kuper dan juga g banyak yang punya teman yg sudah jalan ke kota ini dan kasih kabar jelek tentang kota ini, ya jadi tenang-tenang saja. Walaupun g berani takabur juga bakalan aman di kota ini…

Dan semua ketakutan itu berefek pada rencana durasi berada di kota ini…kota yang berada di list pertama dari daftar kota yang ingin kita kunjungi, dengan tingkat kriminalitas tertinggi yang diikuti berikutnya dengan Praha (survey versi kita). Dan setelah timbang sana sini, maka diputusakan berada di kota ini 6 jam saja…..duh agak sedih sih, Paris sudah di depan mata tapi malah sekilas aja berada disini. But eniwey tetap Alhamdulillah bisa ke kota ini, bersyukuuur juga bisa menginjakkan kaki di kota Chanel ini, maklum ini rencana dadakan ….mana cuma berdua dan emak2 pula, hehe.

Ceritanya dimulai dari reservasi kereta cepat di stasiun Ghent. Jadi walaupun kita sudah punya Eurail pass sebagaimana diceritakan disini. Namun untuk kereta2 tertentu, seperti kereta cepat dan kereta malam diperlukan reservasi dahulu, dan tidak bisa kita naik begitu saja. TGV, Thalys adalah salah dua kereta yang memerlukan persyaratan reservasi. Dan reservasi ini pake biaya loo..dan reservasi yang paling mahal ya ke kota Paris ini, bisa 30 Euro per perjalanan. Wuih mahal amat yaa. Untung petugas di loket pemesanan kasih saran bagus untuk menekan biaya reservasi. Akhirnya rutenya dibuat jadi Ghent – Lyle (kereta regional biasa), Lyle – Paris (TGV ). Dan reservasinya jadi berkurang menjadi 9 Euro saja *senyum2senang.

Berangkat Pagi dari Ghent dan Tiba sekitar jam 11.30 siang di Stasiun Paris Gare du Nord yang arsitekturnya standar khas stasiun kota-kota di Eropa. Tidak ada yang istimewa dari stasiun ini.

Udara yang cukup cerah dan langit biru menyambut kita. Lalu kesan pertama tentang Paris?  biasa aja…..stasiun dan sekitarnya nya maksudnya, hehe. maklum belum beranjak kemana mana.

Tidak berbekal ittinerary, dan bingung mau kemana dulu, akhirnya kita menuju meja informasi. Disana kita cuma bilang kita berencana berada disini cuma 6 jam saja, lalu minta saran mba cantik nan jago bahasa inggris ini untuk menyarankan ke tempat mana aja dan gimana caranya. Taraaa…dibukalah peta Paris, tunjuk sana sini sambil bikin jalur rute yang disarankannya, naik bis apa no berapa. Terakhir disarankan untuk beli tiket one day trip seharga 7 euro saja untuk semua moda transportasi (Metro dan Bis) . Beres sudah mini ittinerary kita, beli tiket lalu keluar untuk mencari bisnya.

Saat di halte bus yang berada di sekitar stasiun, tiba-tiba saja cuaca berubah drastis…mendung menyelimuti langit, awan putih menjadi abu2, lalu diikuti dengan turunnya hujan yang membuat udara semakin dingin karena berangin. Hapus sudah harapan untuk mendapat foto-foto cantik selama di Paris ini, dengan latar belakang Eiffel dan langit birunya. 6 jam dan hujan! terbayang sudah berakhir seperti apa trip kali ni. Dan terakhir hanya bisa pasrah. Alhamdulillah ala kulli hal….manusia berencana Allah yang lebih kuat rencananya.

BZ4A0633Setelah menunggu cukup lama di halte,ditengah hujan dan udara yg dingin membeku, bis no 42 pun bergerak dari pinggiran kota Paris perlahan saja , karena lalu lintasnya yang cukup padat dan ramai. Pinggiran Paris tidak terlalu menarik untuk dilihat. Sama saja bahkan arsitektur bangunannya tidak seindah daerah outskirt di kota kecil Ghent, Belgia. Kecewa? agak sih….namun kekecewaan berangsur sirna setiba bis semakin mendekati area pusat kota. Perlahan, terlihat bangunan-bangunan dengan facade berarsitektur klasik khas Paris ( maaf sy kurang tau langgam arsitektur dari bangunan2 di Paris ini). Nah, ini baru Paris! Ini baru kota yang grandee ! *mendecakterkagumkagum

Jalan yang dilewati berangsur membesar…dari jalan yang hanya 2 jalur menjadi boulevard yang menawan. Hmm, ada untungnya juga ya memilih moda transportasi bis untuk trip kota ini, jadi selain mengantarkan ke tempat tujuan juga menawarkan bis umum rasa city tour! lucky us. Dari kaca jendela bis sudah terlihat beberapa landmark kota Paris di kejauhan. Menara Eiffel pun sudah terlihat juga. Lalu sebaiknya turun dimana yaa? celingak celinguk di bis, akhirnya dua wanita cantik (sepertinya ibu dan anak gadisnya) warga lokal menawarkan bantuan untuk memberitahu dimana kami sebaiknya turun bila Eiffel jadi tujuan. Runtuh sudah satu mitos bahwa warga Paris arogan dan tidak mau berbahasa inggris…dan benar janji mereka, kita diturunkan di tempat yang tepat, di halte terdekat dengan menara Eiffel. Merci madame….

BZ4A0671Kaget adalah, ketika sampai disini kita banyak mendengar sapaan bebahasa indonesia tapi bukan dari orang Indonesia. Penjual souvenirnya pada jago-jago bahasa kita! serasa di Mekah dan Madinah saja…Tapi lebih kaget lagi saat kita bertanya arah pada polisi setempat kita malah dijawab lengkap bahasa Indonesia juga..lengkap dengan belok kanan belok kirinya…duh, ini pasti dari efek banyaknya orang Indonesia yang berwisata kesini. Dan benar saja, tengok kanan tengok kiri yang kita temui adalah rombongan turis Indonesia lengkap dengan guidenya masing-masing. Jadi berasa di kampung sendiri..hehe. Tapi terlihat sedikit yang ber solo-atau duo travel apalagi yang sudah masuk katagori golden age seperti kita.

2015_0520_14001700

menuju halte bis melewati sungai Seine yang indah

Eiffel so far so god dalam artian aman terkendali…tidak terjadi yang aneh-aneh disini. Tas masih utuh, alhamdulillah. Jangan ditanya berapa kali kakaka saya memperingatkan saya untuk memegang erat-erat tas saya. menegur kalau tas sedikit saja terbuka. Hati-hati terhadap orang disekitar…sampai was was terus padahal tak terjadi apa2..hehe.

Kalau keindahannya jangan ditanya lagi, walau sudah sering melihatnya dalam foto, tetap saja terkagum-kagum dengan detail arsitekturnya yang cantik. Ditambah lagi dengan lingkungan sekitarnya yang sangat mendukung keindahan landmark dunia ini.

Tidak berlama-lama disini karena masih ada dua destinasi lainnya..bergegaslah kita menuju destinasi berikutnya Museum Louvre atau Musee du Louvre. Sempat salah arah naik bisnya, yang harusnya naik no 72 tapi yang ke arah kanan, kita malah yang ke arah sebaliknya..hhoo. Jadilah kita city tour lagi puter-puter Paris tapi kali ini pakai bus jadul gratisan yang entah kenapa isinya manula semua. Jangan-jangan ini bis khusus untuk mereka! Bis nya unik seperti terlihat di foto di bawah ini. Dan akhirnya bis ini berhenti di satu titik entah dimana dan tidak berbalik arah lagi. Berarti sekarang kita harus mencari bis yang ke arah sebaliknya, dan alhamdulillah dapat bis no 72 ke arah museum Louvre.

BZ4A0733Sudah semakin canggih mencari pemberhentian bis sesuai tujuan, akhirnya selamat sentosalah kita turun di halte depan museumnya. Berkeliling sejenak tanpa masuk ke dalam musemnya..lalu foto2 seperti biasa. Dan tiba2 saja perut berasa lapar karena kita memang belum sempat makan siang selama di paris ini. Untung saja menemukan mobil yang menjual roti yang ternyata roti Paul yang tersohor itu, hmm nom nom, dingin2 makan roti dan menyeruput cappucino panasnya Paul rasanya sesuatu sekali. Beda ya Paul disini dengan di Singapore yang harus antri panjang untuk masuk ke restonya…disini mah seperti kaki lima biasa aja, dan harganya sangat sangat terjangkau.

BZ4A0747

Alhamdulillah perut sudah diisi dan siap melangkah lagi.

Rupanya Museum ini dan Monumen Arch de Triomphe (tujuan kita berikutnya) berada pada satu garis sumbu. dan kalau kita mau bisa berjalan kaki saja kesana sambil window shopping di Champs  Elysees yang berada di sepanjang yang menghubungkan dua tempat ini. Sayangnya kaki kita sudah g kuat lagi melangkah jauh, dan akhirnya kita putuskan saja naik semacam becak bermotor untuk menuju kesananya. Lumayan kaki bisa beristirhat sejenak.

2015_0520_16203000

sampai di tujuan langit sudah semakin gelap….

BZ4A0829Waktu sudah menunjukkan pukul 5.30 sore waktu Paris…saatnya kembali ke Stasiun, untuk mengejar kereta kembali ke base camp kita di Ghent. Namun cari sana cari sini tidak menemukan bis yang menuju stasiun (lebih tepatnya kebingungan dengan rute bis disana), dan khawatir juga salah arah lagi. Akhirnya memberanikan diri turun ke stasiun metro bawah tanah yang tidak jauh dari monumen ini. Sempat bingung juga dengan sistem metro di Paris yang ternyata cukup rumit. Akhirnya menemukan juga platform tempat kereta yang menuju stasiun Paris Gare du Nord. legaaa…Oh ya satu lagi mitos yg ada di kepala saya tentang metro Paris runtuh. Kabar yang banyak saya dengar, metro Paris itu kurang dalam kebersihannya, agak horor dan kebanyakan isinya adalah para imigran dan anak2 imigran dari Eropa timur dibawah umur yang lihai menjadi pocket picker..hiii serem yaa. Tapiii yang saya lihat kok malah sebaliknya yaa, apa karena masih belum gelap yaa…apapun itu saya sampai geleng-geleng kepala takjub sendiri melihat kenyataannya. Kejutan lagi!

Tiba di stasiun ternyata lebih cepat dari dugaan…harus menunggu sekita 1 jam-an lagi. Lumayan ada waktu untuk isi perut yang dari tadi ‘cuma’ diisi croissant nya pa Paul. Dan distasiun ini ternyata lumayan juga bertebaran resto halal. Kita pilih yang paling dekat dengan gerbang stasiun, biar bisa langsung ‘loncat’ kalau waktunya sudah mepet dengan keberangkatan kereta kita.

2015_0520_17562700

Akhirnya ketemu nasi *elus2 perut

2015_0520_17590900

Salah satu facade gerbang Stasiun Gare du Nord

Tepat jam 7.43 pm kereta kita bergerak meninggalkan hati kita di Paris menuju Lille Flanders, untuk selanjutnya berganti kereta lagi menuju kota Ghent, Belgia..

(kurang lebih) 6 jam di Paris yang deg-deg an namun mengesankan…. rasa khawatir diawal terhapus sudah. Semua yang dibawa masih utuh, tidak kurang suatu apa, tidak terjadi hal-hal yang mengecewakan apalagi mengerikan. Pulang dari Paris membawa hati dan mata yang bahagia…berharap bisa mengunjungi kota ini lagi untuk waktu yang lebih lama, menjelajah lebih banyak sudut-sudut kotanya, and last but not least keinginan yang belum kesampaian adalah berkunjung ke  masjid besar kota Paris dan bisa bersilaturahim dengan warga muslim disana…aamiin. Tak lupa juga ke kota ini lagi dengan membawa serta orang-orang tersayang, di waktu yang tepat…aamiin.

Au Revoir Paris

2 Comments

it’s your time to shine

Rejeki itu sudah ada yang mengatur katanya, porsi dan takarannya, kapan tibanya, bentuknya seperti apa. Ada yang dilebihkan ada juga yang sebaliknya. Terkadang secara kasat mata melihat upaya dan ikhtiar yang sama dari orang yang berbeda, namun hasilnya berbeda jauh satu dengan lainnya. Lapang dada saat menerima apapun bagian rejeki kita itu katanya resep jitu supaya g sedih hati dengan hasil yang tidak sesuai dengan ikhtiar.

Tapi gimana bila ini terjadi pada kesayangan kita ? dimana anak satu dengan yang lainnya beda keberuntungan. Entah bagaimana, dengan didikan yang sama, mereka berbeda beda dalam ke-bisa-annya. Katanya memang setiap anak itu unik, jadi, jangan pernah menyamaratakan mereka apalagi sampai membandingkannya, begitu kata teorinya..

Kadang sebagai orangtua kita sudah berusaha keras untuk tidak membanding-bandingkan keberhasilan mereka…tapi adakalanya mereka sendiri yang melakukan hal seperti itu. Saat melihat kakak atau adik lebih unggul dari mereka, lalu mereka jadi sedih. Dan sebagai orangtua kadang kita jadi ikut sedih..bukan sedih karena kegagalan mereka, tapi sedih karena mereka sedih.

Saya punya pengalaman dengan kejadian ini beberapa kali. Cerita ini dimulai di tahun 2008, saat si bungsu masih SMA kelas 10 dan tertarik untuk mengikuti seleksi AFS/ YES (Youth Exchange & Studies) ..mengikuti seleksi demi seleksi (yg cukup berat) selama lebih kurang satu tahun, dan akhirnya lolos sebagai kandidat dan pergi ke negara tujuan selama satu tahun untuk menjalani peran sebagai siswa pertukaran pelajar  (2209-2010). Di tahun 2012 si bungsi ini tertarik lagi untuk mengikuti seleksi pertukaran mahasiswa, dan lolos lagi sebagai satu2nya kandidat terpilih dari universitasnya untuk berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di negara impiannya.

399455_10200699139578540_677741815_n

Bungsu ( 2013- 2014 )

Lalu cerita berikutnya tentang si sulung (teteh). Kali ini selepas menyelesaikan S1 nya, si teteh ini ingin sekali melanjutkan S2 tapi inginnya di luar negeri. Agak beda dengan si ade yang perjuangan walau tidak bisa disebutkan mudah namun lumayan lancar sesuai skenario. Berjuang selama 2 tahun mencari beasiswa sana sini, sambil diselilingi kerja. Mengalami kegagalan bertubi-tubi, di tolak berkali-kali oleh yayasan beasiswa sudah jadi hal yang lumrah. Tapi determinasi teteh sangat kuat untuk mewujudkan mimpinya. Dan akhirnya di tahun 2011 teteh mendapatkan beasiswa penuh dari salah satu negara di Eropa untuk melanjutkan studi S2 nya disana. beasiswa S3 nya didapat hanya 2 bulan berselang dari selesainya masa studi S2.

Teteh ( 2011-2013)

Lalu bagaimana dengan si tengah? si anak lembut hati namun berkeinginan kuat sama seperti dua saudarinya. Padahal sebagaimana telah dibicarakan diatas tentang beda anak beda pula rejekinya. Kesulitan dan rintangan yang dihadapi juga akan berbeda. Cerita mencari beasiswa berarti cerita tentang tes TOEFL ataupun tes IELTS. Dalam hal ini anak-anak mengambil tes IELTS untuk persyaratan beasiswa dalam kemampuan berbahasa inggrisnya. Buat sulung dan bungsu alhamdulillah diberi kemudahan untuk mendapatkan nilai minimalnya. Sedang untuk si tengah ini menjadi hambatan tersendiri…yang berarti hambatan juga dalam mendapatkan beasiswanya.

Padahal buat si tengah punya dua saudara yang pernah dan sedang berkuliah di luar negeri tentu ada perasaan bangga, senang sekaligus juga menjadi beban tersendiri untuk dirinya. Walaupun tidak pernah ada yang menanyakan apalagi membandingkan dengan kakak dan adiknya. Menjadi pihak yang selalu mengantar ke bandara untuk melepaskan kepergian mereka, dan belum sekalipun menjadi pihak yang diantar. Selalu juga menemani mereka mencari berbagai keperluan untuk bekal selama di negeri orang dan belum pernah sebagai pihak yang sebaliknya. Beban sekali lagi beban yang mungkin tidak terucapkan namun terasakan.

Seringkali curhat tentang perasaannya, dan kita cuma bisa menguatkan, padahal ikut sedih juga didalam hati. Ingin sekali membantu dengan apapun yang bisa kita bantu untuk mewujudakan impiannya. Satu yang tidak saya lakukan…menyuruh si tengah berhenti berusaha. Sesulit apapun jalan yang ditempuh, harus bangkit dan bangkit lagi. Tes IELTS pertama gagal, les lagi dan ikut tes lagi, masih gagal, ambil kursus lagi dan kembali menjalani tes kedua..gagal lagi, dan sempat merasa bahwa kemampuan dalam hal English Academic terbatas, sempat juga merasa lelah belajar hal yang sama selama setahun penuh..jenuuh begitu katanya. Duh, hati ibu mana yang tak merasa trenyuh melihatnya. Namun keyakinan itu harus ditumbuhkan bukan dipatahkan, jangan sampai terucap dari lisan orangtua untuk mereka berhenti berikhtiar (dan berdoa). Terkadang terselip rasa syukur dengan semua ‘ujian’ ini. Melihatnya jadi rajin beribadah, juga memperbanyak doa adalah hikmah di balik semua itu. ditambah lagi mental yang lebih kuat dan kesabaran si anak yang inshaAllah jadi lebih terasah.

Dan orang bijak pernah mengatakan bahwa ‘hasil tidak akan menghianati ikhtiar’. Syukur alhamdulillah nilai IELTS di tes ke 3 memenuhi persyaratan untuk mengajukan LOA (Letter of Acceptance) ke Universitas tujuan. Bukan anaknya saja yang lega, saya jauuh lebih lega lagi. Perlahan tapi pasti grafik self esteemnya meningkat lagi (ini yang saya tunggu, dan bukan semata hasil). Percaya dirinya tumbuh lagi…dan bersiap lagi mengejar beasiswa yang sempat tertunda karena masalah diatas.

LOA sudah didapat, namun beasiswa tak kunjung dapat..ditolak berkali-kali. Sampai akhirnya di awal bulan pertengahan tahun 2015 ini, ayahnya anak2 mendapat panggilan telepon dr si tengah sambil menangis terisak-isak. Kaget, sambil berusaha menenangkan dan bersiap menghibur bila ini berita kurang menyenangkan lagi..namun yang terjadi justru sebaliknya. Ini berita bahagia…beasiswanya di salah satu Universitas tujuannya diterima *sujud syukur

Tengah (2015-2016) InshaaAllah

Lalu ramelah grup line keluarga mengucapkan selamat kepada si tengah ini…dan si bungsu kali ini dengan tulus dan penuh rasa haru mengucapkan : It’s your time to shine mbaa…congrats 🙂

Ternyata ini hanya masalah waktu…manusia sering mengukur keberhasilan atau hasil dari ikhtiarnya dengan parameternya sendiri. Allah yang maha tau kapan waktu terbaik untuk hambanya

La Quwwata Illa biLlahi

6 Comments

Berkereta di Eropa

20 Mei 2015 – 27 mei 2015

2015_0527_13593700

Uni Eropa memang surga untuk para traveller…. dengan satu visa schengen kita bisa berkeliling ke 28 Negaranya. Belum lagi sarana transportasinya yang sangat mendukung……..sistem transportasi darat yang oke pisan, dalam hal ini perkeretaapiannya yang sangat terintegrasi, demikian juga dengan sarana-sarana transportasi lainnya, ferry contohnya.

Awalnya sama sekali buta tentang sistem perkereta-apian disini. Mengandalkan si sulung untuk urusan beli karcis dan pilih rutenya juga jadwalnya. Tapi kok lama-lama g enak juga ya tergantung sama orang, walaupun itu anak sendiri. Akhirnya belajarlah sedikit demi sedikit…browsing-browsing dan ternyata ada app nya juga! yang sangat-sangat memudahkan calon pengguna kereta api untuk memilih jadwal yang sesuai, memilih rute, waktu yang ingin ditempuh, jenis keretanya dll…pokoknya komplit deh. oh ya nama aplikasinya adalah Rail planner.. ini aplikasi super keren yang pernah saya tahu. Saya baru mengunduhnya beberapa hari sebelum mulai penjelajahan beberapa kota Eropa dimulai. Sangat-sangat membantu…Kita tinggal klik icon yg bertuliskan planner, ketik stasiun asal, lalu ketik juga stasiun tujuan…taraa..keluarlah jadwal kereta apinya lengkap dengan keterangan yang diperlukan. Tinggal kita sesuaikan dengan rencana perjalanan kita,

Screenshot_2015-05-23-21-28-33

App Rail Planner

Untuk tiketnya, karena saya dan travelmate (kakak) ingin yg praktis dan lebih murah tentunya maka kami pilih beli tiket terusan saja. 1 tiket untuk beberapa negara. Dan tiket dari eurailpass jadi pilihan kami. Ada 4 paket perjalanan yang ditawarkan disini, berdasarkan jumlah negara yang ingin kita kunjungi yaitu : one country pass, regional pass (2 negara tujuan) , select pass dan terakhir global pass ( sampai 28 Negara) . Pilihan langsung jatuh pada tiket selectpass, dalam hal ini tiket yang bisa dipakai untuk menjelajah dengan kereta di 4 negara, sesuai dengan rencana kita semula. Benelux, France, Germany dan Chez Republic menjadi negara yang kita pilih untuk kita kunjungi menggunakan select pass ini. Benelux sendiri sebenarnya terdiri dari 3 negara kecil (Belgium, Luxemburg dan Netherlands) sehingga jatuh-jatuhnya seperti pergi ke 7 negara. Oh ya selain pilihan negara tujuan, juga ada pilihan lamanya perjalanan…opsinya dari yang 5 hari perjalanan dalam rentang waktu 2 bulan, 6 hari, 8 hari dan 10 hari dalam rentang waktu yang sama. Kita memilih yang 8 hari supaya aman bila tiba2 karena ada sesuatu yang menarik ingin menambah kota tujuan dan otomatis extend perjalanannya.

Gimana cara beli tiketnya? Bisa secara online bila membelinya jauh-jauh hari, atau bisa juga langsung beli di stasiun-stasiun kereta api di negara Uni Eropa (stasiun centralnya). Kenapa online harus jauh-jauh hari? karena tiketnya berbentuk tiket fisik dan bukan tiket online yang bisa dicetak sendiri. Dan pengiriman tiket fisiknya itu bisa makan waktu sampai seminggu lebih. Jadi lebih baik beli saat masih di negara asal sehingga sampai di eropa tiket sudah di tangan dan bisa langsung dipakai jalan-jalan. Keuntungannya beli online? selisih harga yang lumayan besar…bisa sampai 100 Euro!

Dalam kasus saya, karena rencana jalan-jalan dengan kereta ini baru tercetus saat sudah di eropa, dan sudah terdesak waktu, akhirnya kita pilih opsi beli di counter Eurailpass terdekat, dalam hal ini stasiun Brussel Midi. Alhamdulillah dapat di H-4 rencana perjalanan. Kalau sudah dapat tiketnya, harus disimpan hati-hati yaaa…g boleh hilang atau lupa dibawa. Seperti kartu sakti deh yang bisa membawa kita kemana-mana, tapi bisa juga bisa seketika menghentikan hak kita berkereta bila hilang. Kebetulan saya yang in-charge megang tiket ini sepanjang masa perjalanan. Duh deg-degan rasanya…Alhamdulillah sampai ngebolangnya selesai tiket masih aman tersimpan di tangan (tas).

002

                  Tiket Fisik Select Pass

Dan syukur alhamdulillah dengan adanya tiket select pass ini, perjalanan kita jadi terasa lebih mudah dan menyenangkan. Kita bisa bebas memilih jadwal kereta , bebas memilih jenis kereta (dari yang kereta super cepat sampai kereta regional biasa) , memilih kelas kereta dan ini yang paling cool! (tentu saja kami pilih yang first class..hehe). Mau mendadak perginya juga bisa, walaupun untuk jenis kereta tertentu seperty Thalys, TGV ICE dan beberapa kereta super cepat lainnya harus dengan reservasi sebelumnya.

Tiket sudah ditangan..itinerary sudah dibuat, maka dimulailah petualangan saya dan kakak di 4 negara Uni Eropa ini…dimulai dari Ghent Central Station menuju ke Stasiun Gare du Nord Paris sebagai kota tujuan pertama kita.Bismillah…

BZ4A0624

Ghent Central Station

BZ4A0635

Kakak di Gare du Nord Paris